Showing posts with label Turki. Show all posts
Showing posts with label Turki. Show all posts

Sunday, October 2, 2011

Mengenang Pejuang Islam Necmetin Erbakan

b


undefined


Nicmetin Erbakan pantas mendapatkan kehormatan sebagai "Seorang Pejuang Islam", atas perjuangannya yang gigih, tak mengenal lelah, sepanjang hidupnya untuk menegakkan cita-cita Islam di tengah-tengah kehidupan politik Turki yang sekuler.

Erbakan membangun "Gerakan Islamis" di Turki, yang harus menghadapi kehidupan sekuler yang keras, dan kuatnya dominasi militer, yang menjadi 'garda depan' sistem sekuler di negeri yang pernah menjadi pusat kekhalifahan Islam.

Erbakan yang meninggal dalam usia 85 tahun itu, sekalipun seorang Islamis, sikapnya tidak mengurangi kemampuannya untuk melakukan kerjasama dengan berbagai kekuatan politik Turki, dan mampu berinteraksi secara jujur dengan kekuatan politik lainnya, tanpa menjadi seorang oportunis.

Seperti ketika Erbakan memenangkan pemilu tahun 1996, dan kemudian melakukan kerjasama dengan pemimpin Partai Tanah Air, Tancu Ciller, dan kemudian membentuk pemerintahan Turki, dan Erbakan menjadi predana menteri. Tetapi, umur pemerintahannya tidak panjang, hanya satu tahun, karena dibubarkan militer Turki, yang tidak ingin Erbakan mengembangkan pandangan-pandangannya yang Islamis itu, kemudian menjadi sebuah kebijakan Turki.

Dengan warisan sejarah sebagai bangsa besar, yang pernah menjadi 'epicentrum' (pusat) dunia Islam, Erbakan telah membuat 'Blue Print" (Cetak Biru), sebagai pandangannya yang menyeluruh di bidang monoter, ekonomi, politik, dan pertahanan. Erbakan yang lulusan akademi militer dan pembuat tank Jerman itu, seorang yang bercita-cita membangun solidaritas di dunia Islam, dan ingin mengambalikan peran historis Turki. Erbakan telah menjadi tonggak politik Turki modern, pasca Kemal Atturk.

Erbakan, saat sebelum terpilih menjadi perdana Turki, tokoh yang sangat karismatis itu, sudah mempunyai 'Blue Print", tentang sistem monoter (mata uang) Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pertahanan, dan budaya yang ingin diwujudkannya, saat berkuasa.

Semuanya visinya itu, sebagai bentuk komitmentnya untuk membangun kembali dunia Islam. Di mana Erbakan ingin mewujudkannya melalui sebagai kerjasama negara-negara dalam Group 8 atau G 8. Tetapi, gagasan itu, belum sempat diwujudkannya, dan terjadi kudeta militer, dan menyingkirkannya dari kekuasaan, dan militer melarang Erbakan ikut dalam politik Turki, selama lima tahun.

Mantan Perdana Menteri Turki dan pemimpin gerakan Islam meninggal di Ankara pada hari Minggu lalu. Kematiannya datang sehari sebelum ulang tahunnya, dan saat akan meluncurkan buku karangannya yang ia tulis dengan: "Kudeta Pasca Turki Modern".

Necmettin Erbakan mengabdikan hidupnya dalam sebuah gerakan Islam yang dikenal dengan "Milli Görüş", sebuah gerakan yang memiliki akar dalam politik Islam di Turki.

Sejarah Hidup Erbakan.

Erbakan adalah seorang insinyur, akademisi, ilmuwan, dan politisi, yang kemudian mendirikan dan menjadi pemimpin partai politik. Keterlibatannya dalam politik, kemudian mengantarkannya menjaid Perdana Menteri Turki dari tahun 1996 sampai 1997. Erbakan tokoh dan pemimpin Islam pertama yang menjadi perdana menteri Turki. Pada tahun 1997 ia dikudeta oleh militer, dan dipaksa mundur sebagai perdana menteri, dan kemudian dilarang berpolitik oleh mahkamah konstitusi, selama lima tahun.

Erbakan lahir di Sinop, di pantai Laut Hitam di Turki utara. Setelah pendidikan perguruan tinggi di İstanbul Lisesi, dan ia lulus dari Fakultas Teknik Mesin di Universitas Teknik Istanbul (ITU) pada tahun 1948, dan menerima gelar PhD dari Universitas RWTH Aachen, Jerman. Erbakan, seorang ahli pembuat tank, yang mendapatkan penghargaan atas kemampuannya itu. Setelah kembali ke Turki, Erbakan menjadi dosen di ITU dan diangkat sebagai profesor pada tahun 1965 di universitas yang sama. Setelah bekerja beberapa waktu dalam industri, dan menjadi pelopor di dunia industri Turki, kemudia Erbakan beralih ke politik, serta terpilih sebagai wakil dari Konya pada tahun 1969.

Ideologi Necmettin Erbakan ditetapkan dalam sebuah manifesto, yang ada dalam gerakan Milli Görüş (Nasional View), yang diterbitkan pada tahun 1969. Gerakan Milli Gorus, berakar pada prinsip-prinsip Islam, dan menjadi sebuah gerakan besar di Turki, yang memiliki kesamaan dengan IkhwanulMuslimin di Mesir. Karena itu, sepanjang kehidupan Erbakan, yang terlibat aktif dalam gerakan Milli Gorus, terjalin hubungan yang sangat erat, antara Milli Gorus dengan Ikhwan.

Milli Gorus adalah sebuah gerakan yang berbasis agama, yang memiliki sayap politik di Turki sejak tahun 1970. Kemudian, Erbakan telah menjadi pemimpin dari berbagai partai politik Islam yang didirikan atau diilhami oleh gerakan Milli Gorus, dan mendapatkan dukungan rakyat Turki, dan populer dikalangan rakyat. Tetapi, partai-partai Islam di Turki yang didirikan oleh Erbakan berulang kali dibubarkan oleh penguasa sekuler di Turki. Pada 1970-an, Erbakan menjadi ketua Partai Keselamatan Nasional, puncaknya, membentukkoalisi dengan Partai Republik yang dipimpin Perdana Menteri Bulent Ecevit selama krisis Siprus 1974.

Ketika militer melangsungkan kudeta tahun 1980, dan partainya Erbakan dilarang di pentas politik, kemudian Erbakan muncul kembali setelah referendum untuk mencabut itu pada tahun 1987, dan selanjautnya Erbakan memimpin Refah Partisi (Partai Kesejahteraan). Erbakan secara mengejutkan sukses memimpin Partai Refah, dan menjadi kekuatan politik yang besar, serta memiliki pengaruh yang luas, ketika pemilu 1995.

Erbakan menjadi Perdana Menteri pada tahun 1996, dan koalisi dengan Doğru Yol Partisi (Partai Jalan Sejati), yang dipimpin Tansu Ciller. Erbakan adalah perdana menteri pertama Turki dari kalangan muslim taat di Turki modern. Sebagai perdana menteri, ia berusaha membangun hubungan dengan negara-negara Arab. Selain mencoba untuk mengikuti program kesejahteraan ekonomi, yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan antara warga Turki, pemerintah mencoba menerapkan pendekatan politik multi-dimensi untuk hubungan dengan negara-negara tetangga.

Militer Turki secara bertahap meningkatkan kekerasan dan tekanan politik kepada pemerintah Erbakan, akhirnya mendorong Erbakan untuk mundur 1997 dalam sebuah langkah yang telah dijuluki sebagai "kudeta postmodern".

Partai Kesejahteraan (Partai Refah), kemudian dilarang oleh pengadilan, yang menilai bahwa partai memiliki agenda untuk mempromosikan fundamentalisme Islam, dan Erbakan dilarang aktif berpolitik.

Meskipun dilarangan melakukan aktivitas politik, Erbakan tetap bertindak sebagai mentor dan penasehat informal untuk anggota mantan Partai Repah yang mendirikan Partai Kebajikan pada tahun 1997. Partai Kebajikan dianggap inkonstitusional pada tahun 2001, dan dilarang. Pada saat larangan terhadap Erbakan dibidang politik telah berakhir, dan ia mendirikan Partai Felicity, yang ia adalah pemimpin tahun 2003-2004 dan sekali lagi dari 2010 dan seterusnya.

Gerakan Islamis yang digerakkan oleh Erbakan yang berusaha ingin membangun kerjasama yang luas dengan dunia Islam, dan ingin mengembalikan peran histroris Turki, kehilangan tokohnya yang hari Minggu lalu, meninggal. Erbakan benar-benar seorang pejuang Islam dengan caranya, ingin membangun kembali peran sejarah Turki bagi masa depan Islam. Erbakan dan Mili Gorus telah menjadi tonggak penting bagi Turki modern.(mhi)

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/mengenang-pejuang-islam-necmetin-erbakan.htm


Sunday, September 4, 2011

AKP? ‘Bersama’ Atau ‘Berbeza’? - Ust Hasrizal



16411.jpg


“Pada pandangan saya, kesedaran Islam di Malaysia, jauh lebih maju berbanding Turki sebab di dalam ceramah Parti Islam mereka (Refah), ucapan yang hebat masih disambut dengan tepukan tangan, dan bukannya takbir Allahu Akbar seperti yang ada di negara kita!”, ucap seorang tokoh di dalam suatu majlis yang saya hadir kira-kira tahun 1996. Tokoh itu baru pulang dari Istanbul meraikan ulangtahun pembukaan kota Istanbul oleh Sultan Muhammad al-Fatih pada 23 Mei 1453.

Saya menongkat dagu, termenung…

Bagaimanakah kita membaca dan menganalisa suhu kebangkitan Islam? Tepuk tangan dan takbir?


KINI

11 tahun sudah berlalu, zaman sudah banyak berubah. 1996, masih ramai yang bertepuk tangan terbalik, dengan alasan bertepuk tangan akan menyamakan kita dengan Yahudi! Hari ini, pemerhatian saya memperlihatkan serba sedikit perubahan pada tanggapan itu.

Namun, isu pentingnya di sini ialah, bagaimanakah kita membaca jatuh bangun kebangkitan dan kejatuhan kesedaran Islam?

Soalan ini penting untuk dijawab, sebelum kita melangkah kepada proses menganalisa kemenangan Parti Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi – AKP) di Turki pada pilihanraya baru-baru ini.

Rata-ratanya, saya melihat ada tiga trend cara kita di Malaysia menyambut kemenangan itu.


Golongan pertama memuji kemenangan AKP dengan tanggapan bahawa ia adalah kemenangan buat Parti Islam dan ideologi politik Islam. Pencapaian 46.66% itu diukur sebagai melonjaknya sokongan rakyat kepada perjuangan Islam yang diertikan sebagai ideologi politik Islam yang mungkin lebih mudah jika dikiaskan kepada Ikhwanul Muslimin di Dunia Arab, dan mungkin juga PAS di dalam konteks Malaysia.

Sebahagian daripada golongan pertama ini juga cenderung untuk menganggap bahawa imej AKP yang menggugurkan sebutan-sebutan Syariah Islam, Negara Islam dan lain-lain konotasi yang sinonim dengan Parti Islam Turki era Refah suatu ketika dahulu, sebagai suatu strategi untuk tidak menimbulkan lagi ketegangan di antara mereka dengan radikal sekularis, khususnya Tentera.


Golongan kedua pula, mencela kemenangan AKP dengan menuduh AKP telah lari dari perjuangan Islam mereka. AKP sudah menggadai prinsip kerana tidak lagi memperjuangkan Negara Islam, tidak lagi berterus terang tentang kemahuan mereka terhadap perlaksanaan Syariah Islam malah membuat perdamaian pula dengan sekularisma dan sekularis di Turki.


Golongan ketiga pula, memuji kemenangan AKP tetapi tidak ditafsirkan sebagai kemenangan kepada idelogi Politik Islam seperti golongan pertama, sebaliknya pelbagai definisi diberikan kepada identiti AKP dan AKPisma hari ini… misalnya Zin Mahmud dari Utusan Malaysia mengistilahkannya sebagai kemenangan kepada proses sekularisasi Islam.


BAGAIMANA SEBENARNYA?

Tentu sahaja, ia suatu yang mengelirukan bagi kebanyakan kita. Apakah sebenarnya realiti di sebalik kemenangan AKP itu? Adakah ia kemenangan yang patut diraikan oleh PAS di Malaysia? Atau UMNO mahu menumpang kaki sama atas perubahan imej AKP hari ini? Atau ia suatu kemenangan kepada suatu kemunafikan yang diistilah sebagai pragmatisma dalam bahasa teknikal semasa?

Di sinilah saya ingin mengajak diri saya dan pembaca semua agar menyiapkan suatu mindset yang betul sebelum kita melangkah kepada analisa. Sebagaimana yang telah disimpulkan oleh John L. Esposito di dalam bukunya The Islamic Threat: Myth or Reality? (Oxford University Press, 1999, mukasurat 208), pengalaman yang pelbagai oleh gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia menunjukkan bahawa ia bukanlah suatu realiti yang monolitik atau secorak. Kepelbagaian pendekatan dan percubaan ini menunjukkan kepada ruang fleksibiliti yang ada di dalam Islam untuk membolehkan berbagai-bagai bentuk penafsiran dan pendekatan yang boleh dihasilkan oleh gerakan Islam dan kesemuanya mempunyai sandaran kepada Islam yang sama.

Kesimpulan John Esposito ini ditujukan kepada trend di Barat, khususnya di Amerika Syarikat yang gemar memukul rata terhadap Islam dan hubungkaitnya dengan Terorisma dan Fundamentalisma.


PEMBACAAN POLITIK

Tetapi saya ingin meletakkan kesimpulan itu di dalam konteks yang berbeza, ia sebagai suatu peringatan kepada pendukung gerakan Islam agar tidak membaca strategi dan pendekatan gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia dengan hanya satu bacaan. Ia perlu difahami mengikut konteks negara di mana gerakan Islam itu bergerak.

Apatah lagi di sebuah negara seperti Turki, yang sering saya sebutkan sebagai “sebuah negara yang sukar bagi orang luar memahaminya kecuali dengan mereka itu datang sendiri, merasai, menyaksi dan mengambil pengalaman sendiri”.

Perkembangan AKP di Turki bukan sahaja mudah disalah ertikan oleh kita sebagai orang luar, malah golongan sekularis di Turki juga sering memahaminya dengan kepala dan ekor yang celaru. Apabila berlakunya rusuhan di Turki atas nama Republik dan ideologi sekularismanya ketika pemilihan presiden yang lalu, pengajur kepada protes ini cuba untuk menyatakan suatu mesej iaitu: PRINSIP SEKULARISMA DAN REPUBLIK TERANCAM!

Walhal apa yang berlaku adalah jauh dari hakikat itu. Apabila mereka diminta untuk mengemukakan sandaran yang cukup terhadap sejauh manakah benarnya dakwaan mereka bahawa AKP itu mengancam prinsip-prinsip sekularisma yang diperkatakan, maka mereka menyatakan bahawa isteri Abdullah Gul yang dicalonkan sebagai presiden itu memakai hijab. Maka tiga jawatan tertinggi di Republik Turki iaitu Presiden, Perdana Menteri dan Speaker Parlimen telah jatuh ke tangan Islamis!

Sedangkan pemimpin AKP sendiri secara tegas menolak diri mereka diidentitikan sebagai Islamis (Abdul Hamid Bilici. On Rise in Turkey: Islamism or Democracy?, Islamonline.net, 02/08/2007)


MEMAHAMI PERKEMBANGAN IDEOLOGI AKP

Pada tahun 2003 saya telah ke Turki selepas beberapa tahun tidak ke sana. Peluang itu saya gunakan untuk bertemu dengan seramai mungkin rakan-rakan yang mana sebahagian mereka adalah aktivis di dalam Fazilet Partisi (FP) suatu ketika dahulu. Malah saya mengambil sebaik-baik peluang untuk berbual dengan ayah angkat saya, Mehmet Kayacan yang selama 10 tahun menjadi Datuk Bandar di Majlis Perbandaran Bolvadin.

Intipati utama saya adalah tentang pemisahan yang berlaku di antara AKP pimpinan Erdogan dan Saadet Partisi (SP) yang dipimpin oleh ‘senior’, iaitu Necmettin Erbakan. Pada peringkat awalnya saya menyangkakan bahawa pecahan Fazilet kepada AKP dan SP ini merupakan suatu strategi. Tetapi kedatangan saya ke Turki pada tahun ini menyangkal sangkaan saya ini.

“Jadi, adakah amca (panggilan ‘pakcik’ yang saya gunakan untuk Mehmet Hoca) sekarang ini memilih untuk bersama dengan SP atau AKP?”, saya cuba mencungkil cerita.

“Susah pakcik nak cakap. Ia adalah perpecahan yang hakiki. Pakcik sudah lama bersama dengan Erbakan Hoca dan kami sudah sebati. Tetapi perkembangan semasa di Turki menuntut kita untuk menyemak kembali pendekatan kita selama ini. Erdogan dinamik dalam hal ini dan jika direnung dari sudut kebijaksaan siasah, pakcik harus akur bahawa Erdogan mengambil langkah yang tepat”, kata Pakcik Mehmet Kayacan.

Pakcik Mehmet sudah beberapa kali menyatakan hasratnya untuk mengundurkan diri dari politik tetapi Necmettin Erbakan mahukan beliau terus bertahan. Nampak keletihan di wajah pakcik.

“Jadi, pakcik memilih Saadet?”, saya bertanya.

“Izinkan pakcik untuk meletakkan jawapan dalam kesimpulan yang mudah iaitu, prinsipnya ialah pada Saadet tetapi politiknya ialah pada AKP!”, kata pakcik Mehmet. Kami ketawa.

Fatih, anaknya juga turut sama ketawa. Saya faham mengapa Pakcik Mehmet memberikan jawapan yang agak kabur kerana Bolvadin ketika itu sedang berdepan dengan beberapa konflik dalaman di mana ada usaha di kalangan orang muda untuk mendesak Pakcik Mehmet berundur. Beliau tersepit di antara SP dan AKP. Suatu perpecahan yang saya ratapi ketika itu.
Tetapi hakikatnya AKP sedang berjalan di atas suatu jalan yang berlainan dari jalan yang dipilih oleh Saadet Partisi. Jalan-jalan yang berpisah ini disulitkan lagi oleh hubungan yang kelihatannya semakin renggang di antara Erdogan dengan gurunya Erbakan. Malah Erbakan pula secara terbuka mengkritik Erdogan yang dianggapnya sebagai kurang berpengalaman dan masih berdarah

Kesannya, pilihanraya umum Turki telah memperlihatkan suatu hasil yang ketara. AKP telah mencapai keputusan cemerlang dengan kemenangan keseluruhan 34.28% berbanding dengan Saadet Partisi yang hanya memenangi 2.48%.


SENIORITI NECMETTIN ERBAKAN

Siapa yang boleh menafikan sumbangan Erbakan kepada politik Turki? Sama ada dalam konteks politik Islam, mahu pun kejayaannya membangunkan ekonomi negara pada era pertengahan 90?an ketika beliau menjadi Perdana Menteri. Tetapi sampai suatu masa, Erbakan tersisih dari arus perdana, dan saya suka mengaitkan ia dengan konsep Challenge and Response yang akan diperkatakan nanti.

Erbakan adalah seorang yang berimejkan ahli politik. Ucapannya sangat unik dan menawan. Kebijaksaannya beretorik dengan maksud mahu menggugat harga diri mereka yang memusuhinya, cukup terserlah. Kerana itu ucapan-ucapan Erbakan sering disambut dengan lonjakan semangat mereka yang mendengarnya. Saya sendiri pernah berdiri di celah puluhan ribu penyokong beliau dan kehangatan yang beliau cetuskan hasil ucapannya… sungguh terasa.

“Wahai Sultan Muhammad al-Fatih. Ini kami, tenteramu datang untuk membersihkan kembali Istanbul yang telah dicemar. Sesungguhnya Ankara adalah ibu kota Republik. Namun Istanbul inilah, ibu kota Ummah!”, ucapannya di tengah-tengah Stadium Inonu di Taksim pada Mei 2005 ketika Ulangtahun Pembukaan Istanbul.

“Mujahid Erbakan, Muhajid Erbakan!”, puluhan ribu penyokongnya bersorak di seluruh stadium. Saya sendiri tegak bulu roma melihatkan kebangkitan suatu gelombang yang amat besar.
Erbakan juga tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan negara-negara Barat. Beliau juga tidak selesa dengan keahlian Turki di dalam NATO serta tidak mempunyai sebarang keinginan untuk mengusahakan kemasukan Turki ke European Union (EU). Sebaliknya Erbakan bercita-cita besar mahu membawa Turki lebih ke Timur. Beliau telah melakukan mobilisasi ke Nigeria, Mesir, Pakistan, Bangladesh, Iran, Indonesia dan Malaysia untuk membentuk pakatan ekonomi gergasi Muslim yang dikenali sebagai D8 sebagai tentangannya kepada G8 yang berproksikan kuasa besar Barat.

Pendekatan Erbakan bukan hanya berbekalkan bakatnya dalam membangkitkan semangat rakyat, tetapi juga beliau mempunyai tenaga kerja yang amat berkualiti. Kaji selidik yang dilakukan oleh pelbagai pihak termasuk Newsweek ketika menganalisa kemenangan Parti Refah pada pilihanraya 1995, memperlihatkan bahawa hanya 1/3 sahaja pengundi Parti Refah yang mengundi kerana parti itu merupakan Parti Islam. 2/3 lagi mengundi kerana keyakinan mereka kepada keupayaan calon-calon Parti Refah menawarkan perkhidmatan yang dapat memperbaiki kualiti hidup masyarakat tempatan secara keseluruhannya.

Tegasnya kemenangan Parti Refah pada era 90an itu bukanlah bersandarkan kepada ucapan-ucapan yang sedap didengar oleh rakyat, tetapi disebabkan oleh kecemerlangan prestasi yang ditunjukkan oleh tenaga kerja Parti Refah, termasuk juga kaum wanitanya yang super dinamik.

Namun, retorik Erbakan itu mengundang bencana. Walaupun Erbakan telah berjaya membuktikan keupayaannya mengurangkan inflasi ekonomi Turki pada kadar yang sangat hebat, dan pemulihan sosio ekonomi masyarakat amat dirasakan, namun slogan-slogannya yang anti Imperialisma Barat, dan lenggoknya yang kelihatan amat mengancam status sekularisma kemalisma yang telah bertapak dan berakar umbi di Turki itu, maka akhirnya kecemerlangan Erbakan berakhir dengan tentera mengambil alih kuasa buat kali ketiga dalam sejarah Republik Turki, pada 1997, Tentera telah mengemukakan 18 tuntutan untuk menghapuskan ancaman ideologi Islam terhadap sekularisma di Turki.


KEMUNCAK ‘BERMAIN API’

Kesannya, pemakaian hijab menjadi semakin runcing, sekolah Imam Hatip ditutup, pengajian rasmi sekular diperpanjangkan dari 5 kepada 8 tahun, dan ini telah menyebabkan ribuan sekolah tahfiz di Turki ditutup kerana ketiadaan pelajar, tentera menyepak al-Quran di sesetengah sekolah, NGO yang begitu cemerlang seperti Genclik Vakfi ditutup seiring dengan hukuman ke atas Parti Refah yang membawa kepada pengharamannya pada 28 Februari 1998. Seluruh harta parti dirampas, Erbakan disingkirkan dari parlimen dan diharamkan dari menyertai politik selama 5 tahun dan keseluruhan Turki menjadi porak peranda.

Di sinilah turning point yang amat penting bagi Turki. Ketika saya ke Turki pada tahun 1998 dan 1999, saya berada dalam keadaan yang sangat dukacita. Ekonomi Turki yang merudum telah meletakkan rakyatnya di dalam kehidupan yang amat menekan. Paling menyedihkan, selepas suara sokongan terhadap Parti Refah bergema sejak sekian lama, kini semua pihak menunding jadi ke arah Parti Islam itu dengan mengatakan bahawa Parti Refahlah yang menjadi punca kepada segala kesusahan yang ditanggung oleh sekalian rakyat pada hari itu.

Jika dahulu pemakaian hijab hanya sekadar berdepan dengan cakap-cakap mulut semata, tetapi berubah menjadi suatu jenayah rasmi yang telah menjadi punca penyingkiran pelajar dari universiti dan perkhidmatan awam. Turki tidak pernah menjadi seteruk era pasca pengharaman Parti Refah.

Pada tahun yang sama (1998) bekas anggota Parti Refah telah membentuk sebuah parti baru iaitu Fazilet Partisi. Walaupun Erbakan masih berada dalam sekatan politik, beliau berjaya meletakkan sahabat karibnya Recai Kutan menjadi Presiden Parti. Ini dianggap sebagai suatu langkah untuk menyekat orang muda dan angin perubahan oleh Erdogan menguasai parti.

Fazilet Partisi telah mengubah imejnya kepada identiti yang lebih terbuka. Sebahagian daripada kepimpinannya adalah terdiri daripada wanita yang tidak berhijab, Nazli Ilicak sebagai contoh. Malah Abdullah Gul yang pernah menjadi Menteri di era Refah telah meninggalkan prinsip Refah dengan mengisytiharkan bahawa Fazilet Partisi mengambil pendirian untuk lebih berintegrasi dengan Barat demi demokrasi dan kestabilan awam (John Esposito, 1999: muka surat 206).


Sumber : http://saifulislam.com/?p=754

Thursday, June 16, 2011

Belajar dari AKP untuk menang PRU-13


Zulkifli Sulong, Istanbul

ISTANBUL, 15 Jun: Selepas tiga hari berada di Turki untuk melihat dari dekat perjalanan dan strategi kempen parti AK di Turki, rombongan hari ini berkemas-kemas untuk pulang.

Lima delegasi telah berlepas pulang 13 Jun, sehari selepas pilihan raya, manakala hari ini lima lagi anggota akan berlepas pulang ke Malaysia.

Banyak yang dapat dipelajari dari AK parti untuk membolehkan PAS, PKR dan DAP juga menempah kemenangan yang sama di Malaysia.

"Bagi saya, terlalu banyak perkara yang kita boleh pelajari dalam pilihan raya ini dan perlu kita laksanakan. Sebaik saja pulang ke Malaysia, saya akan pastikan perkara ini sampai kepada pimpinan PKR untuk dilaksanakan," kata Saifudin Nasution Ismail, Setiuasaha Agung PKR sebelum berlepas pulang 13 Jun.

Turut pulang bersama beliau adalah Dr Siti Mariah Mahmud, Nasir Mustafa, Datuk Johari Abdul dan juga Nurul Izzah Anwar.

"Saya akan membuat beberapa cadangan kepada PAS untuk dilaksanakan menjelang pilihan raya akan datang," kata Dr Mariah Mahmud. Sessi lepas, Dr Mariah adalah timbalan pengarah Jabatan Pilihan Raya PAS Pusat.

Selepas melihat dari dekat strategi dan pendekatan kempen AKP, ada beberapa perkara pokok yang perlu dipertimbangkan dan wajar dilaksanakan oleh PAS khasnya untuk memenangi hati rakyat Malaysia menjelang pilihan raya ke 13 nanti.

Pertama, kempen ini mesti inklusif atau memasukkan semua orang dalam sasaran. Benar PAS parti Islam tetapi Islam hendaklah dijelmakan untuk memimpin semua pihak, Islam dan bukan Islam. Di Turki, AK disenangi semua pihak. Yang mahukan Islam menyokong AKP, yang sudah jauh dari Islam juga menyokong AKP.

Kami berjumpa dengan seorang pemain bola sepak semi pro Turki ketika membeli CD lagu Turki untuk dibawa pulang ke Malaysia. Kebetulan dikedai itu, dia yang boleh berbahasa Inggeris. Apabila diberitahu kami mencari lagu tema kempen AK yang dicipta khas untuk pilihan raya ini, beliau sibuk sekali cuba mendapatkannya. Perkenalan itu menjadi sangat mesra kerana mengetahui kami menyokong AKP.

Seorang penyokong Saadet, Hassan, juga menjangkakan AKP akan menang besar dalam pilihan raya ini. Ini kerana, beliau akui orang ramai suka dengan cara AK. Yang kuat Islamnya suka kerana AK sangat tegas mempertahankan nilai-nilai Islam manakala yang sudah terungkai Islamnya dek lamanya Turki dibawah sekular, senang dengan pendekatan terbuka AKP.

Yang kuat Islam sangat terpaku dengan ketegasan Raccip Toyyib Erdogan memperjuangkan hak untuk wanita Islam memakai pakaian yang menutup aurat sebagaimana isteri beliau hatta di universiti dan majlis rasmi kerajaan yang selama ini dihalang oleh undang-undang Turki.

Mereka juga terkesima dengan cara Erdogan melayan Presiden Israel, Shimon Peres, dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos beberapa tahun lalu. Gambar Erdogan menunding jari kepada Peres dan video peristiwa itu menjadi bahan kempen utama AKP dalam pilihan raya ini.

Yang sudah jauh dari Islam juga menerima AKP. Ketika AKP memperjuangkan hak untuk wanita Islam memakai tudung, parti itu juga memberikan peluang kepada wanita yang tidak bertudung untuk menjadi calon mereka. Mungkin PAS tidak perlu melakukan hal ini di Malaysia namun keterbukaan mereka memberikan makna besar kepada rakyat Turki.

Cara kempen Turki juga berjaya membawa golongan muda dan seluruh keluarga untuk bersama mereka. Lebih 80 peratus pihak yang meraikan kemenangan AKP 12 Jun lalu adalah golongan muda yang datang bersama keluarga mereka.

Ketika berkempen begitu juga. Ramai sekali golongan ini bersama berarak di jalan raya (walk about) bersama calon-calon AKP. Ketika berkumpul di sebuah taman untuk mendengar ucapan, ia juga dipenuhi anak-anak muda.

Pemimpin AKP sendiri mendekati mereka bukannya diserahkan kepada pemimpin muda sahaja. Lagipun, suasana yang dihasilkan dalam kempen juga menggamit anak muda dan keluarga untuk turut bersama dalam kempen itu.

Pendekatan kempen mereka bukan pentas ceramah semata tetapi berkumpul di taman, berjalan di kawasan perumahan dengan diiringi muzik yang sesuai dan sebagainya.

Pendekatan kempen AKP juga bercorak 'lihat dan percaya'. Melalui pendekatan ini, bahan-bahan kempen AKP juga lebih bercorak gambar yang besar-besar. Gambar-gambar besar tanpa perkataan ini di pasang di merata-rata tempat khasnya di pejabat-pejabat AKP.

Jentera kempen utama AKP adalah van yang dibaluti dengan gambar bahan kempen parti mereka. Van-van ini disewa untuk tempoh kempen ini sahaja. Pendekatan ini menyebabkan AKP boleh dilihat di merata tempat. Untuk Istanbul sahaja, AKP mempunyai lebih 300 buah van. Setiap calon anggota Parlimen mereka akan mempunyai sekurang-kurangnya dua buah van semacam ini.

Van ini pula dipantau pergerakan mereka dengan GPRS. Hasilnya, pergerakan jentera mereka ini dapat dilihat dengan jelas di ibu pejabat mereka.

Selain gambar kempen membaluti van ini, ia juga dilengkapkan dengan pembesar suara yang memasangkan lagu-lagu AKP sepanjang kempen mereka.

Dalam kempen ini, AKP banyak memaparkan kejayaan yang dibuat oleh mereka sepanjang lapan tahun pentadbiran AKP bermula 2002 lalu. Mereka bandingkan setiap perkara dari pendidikan, kesihatan, pengangkutan, ekonomi dan sebagainya. Perbandingan dibuat antara 'Nereden' (dahulu) dan 'Nereye' (kini) dalam bentuk gambar, grafik dan angka yang besar, jelas dan terang.

Kami yakin, ini perkara utama yang perlu di buat oleh negeri-negeri Pakatan Rakyat iaitu Kelantan, Selangor, Pulau Pinang dan Kedah.

Untuk peringkat nasional juga boleh dibuat iaitu dengan membanding Malaysia dahulu dan kini selepas 50 tahun di perintah oleh Umno dan Barisan Nasional.

Oleh kerana media di Turki adalah bebas tanpa kongkongan parti politik yang memerintah, semua parti boleh berkempen melalui media samada tv, akhbar atau dalam bentuk banner-banner besar.

Hasilnya, tidak banyak dirasai kehangatan kempen di jalan-jalan raya Turki tetapi ia sangat hangat di media. Memandangkan Malaysia tidak menikmati kebebasan sebegini, ia agak sukar dilakukan. Namun begitu, Pakatan perlu juga mengambil pendekatan ini dengan membeli ruang-ruang iklan di media yang agak bebas untuk menyampaikan mesejnya.

Pendekatan tulisan yang banyak sudah ketinggalan. Manifesto perlu dipaparkan dalam bentuk gambaran bukan tulisan yang banyak lagi. lihat dan percaya (Seing is beliving) perlu dipraktikkan sepenuhnya dalam kempen era moden dan tanpa sempadan ini.

http://bm.harakahdaily.net/index.php/berita-utama/3805-belajar-dari-akp-untuk-menang-pru-13


Membandingkan Partai AKP Turki Dengan Partai Islam di Indonesia?


Ini pertama kali dalam sejarah sejak Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki, di mana perhatian masyarakat internasional begitu besar terhadap pemilu Turki. Pengaruh dan spektrum politiknya hampir sejajar, ketika berlangsung pemilu di Amerika Serikat. Profile Erdogan dan Partai AKP, memiliki daya tarik (magnitude) yang luar biasa, di tengah-tengah suramnya kehidupan politik secara global.

Erdogan dan AKP mampu mempertahankan kekuasaannya, secara berkelanjutan hampir satu dekade. AKP mulai membangun kekuasaan politiknya, sejak pemilu tahun 2002, ketika AKP memenangkan pemilu parlemen secara mayoritas (34 persen). Disusul pemilu 2007, AKP berhasil lagi mempertahankan dukungan politik secara luas dari rakyat Turki, dan memenangkan pemilu dengan suara mayoritas di parlemen (47 persen). Kemudian, pemilu 2011, yang berlangsung minggu kemarin, AKP memenangkan suara mayoritas, hampir 50 persen (326 kursi) parlemen. Meskipun AKP gagal memenuhi target dua pertiga (367) suara di parlemen,yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan konstitusi Turki secara unilateral. Tetapi, kemampuan Erdogan dan AKP mempertahankan kekuasaan selama satu dekade itu, prestasi politik yang luar biasa.

Ada faktor-faktor yang menyebabkan AKP mampu mempertahankan dukungan politik secara luas dari rakyat Turki antara lain :

Pertama, adanya faktor kepemimpinan di dalam Partai AKP, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki visi, integritas, kredibel, dan komitmen yang sungguh-sungguh dengan visi mereka. Bukan orang-orang oportunis, yang hanya semata mengejar kekuasaan. Mereka bekerja di dalam sebuah kekuasaan dengan visi yang sangat jelas. Tiga tokoh utama dalam AKP, yang membuat Partai AKP menjadi pilihan rakyat Turki, yaitu Recep Tayyib Erdogan, yang menjadi perdana menteri, Abdullah Gul, yang menjadi presiden Turki, dan Ali Babacan, yang menjadi deputi perdana menteri.

Kedua, "Triumvirat" AKP, Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, menjadi arsitek perubahan di Turki, melalui instrumen Partai AKP. Ketiganya orang yang terdidik, berlatar belakang sebagai ekonom, dan ketiganya pernah bekerja di lembaga multilateral. Abdullah Gul pernah bekerja di IDB (Islamic Development Bank), dan World Bank. Erdogan, yang ekonom pernah bekerja di IDB, dan memulai karir politiknya sebagai Walikota Istambul, yang sukses, saat Partai Refah, yang dipimpin Necmetin Erbakan memenangkan pemilu di Turki l994. Ali Babacan, ekonom yang sangat jenius, dan menjadi deputi perdana menteri, dan ketua negosiator dengan negara Uni Eropa.

Ketiga tokoh "Triumvirat" Turki, Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, ketiganya adalah tokoh yang memiliki visi yang jelas, integritas yang tinggi, komitmen, dan kesungguhan menjalankan dan memperjuangkan visi atau cita-cita yang dimilikinya dengan bekerja keras.

Tetapi, yang paling pokok, mereka memiliki visi (cita-cita) yang jelas, dan meperjuangkannya dengan jalan dan instrumen yang terbuka, disertai komitmen yang tidak pernah putus, selama satu dekade ini. Karena pandangan dan sikap ketiga pemimpin Turki itu, rakyatnya memberikan apresiasi dengan dukungan politik, yang konstan selama satu dekade ini.

Ketiga, hanya dalam waktu satu dekade Turki di bawah kekuasaan Partai AKP, yang dipimpin Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan, terjadi perubahan yang luas. Ekonomi Turki mengalami "booming", ditandai dengan meningkatnya "income perkapita" rakyat Turki. Menurunnya inflasi di bawah dua digit. Surplus perdagangan luar negeri Turki yang terus meningkat, dan Turki menjadi kekuatan keempat ekonomi di Eropa. Mata uang Lira Turki sejajar dengan dollar. Semuanya itu telah mengubah kehidupan rakyat Turki yang lebih makmur.

Keempat, dibidang politik, Erdogan dan AKP mengakhiri kekisruhan politik dan ketidakstabilan, yang selama ini akibat konflik kepentingan antara partai-parai politik. Dengan suara mayoritas yang dimiliki AKP di parlemen, Erdogan dapat mengarahkan seluruh kebijakan politik negara sesuai dengan visinya.

AKP dan Erdogan berhasil menjinakkan militer yang selama ini menjadi "king maker" dan "trouble maker"politik Turki. Selama pemerintahan AKP, militer dikembalikan ke barak. Usaha militer melakukan kudeta berhasil digagalkan, dan bahkan sejumlah jenderal dijebloskan ke dalam penjara.

Peran Turki di fora global dan regional sangat menonjol, dan bahkan posisi Turki sekarang menjadi sangat penting dalam masalah isu politik global. Negara Islam yang pertama kali dikunjungi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sesudah terpilih menjadi presiden, adalah Turki. Ini menggambarkan betapa pentingnya posisi Turki di mata Amerika Serikat.

Dengan arsitek politik luar negeri yang sangat handal, Prof. Ahmed Dovutoglu, Turki sekarang meluaskan pengaruhnya ke Timur Tengah, Asia Tengah, Eropa, serta Amerika. Pandangan Ahmed Dovutoglu yang "multilateralis" sangat diperhitungkan. Terhadap penyelesaian krisis Timur Tengah, dan Palestina, di mana sikap Turki, sangat terang membela Palestina. Bahkan, Erdogan ketika dalam Forum Ekonomi Global di Davos, Swiss, mempermalukan Presiden Israel Shimon Peres, yang mengkritik dengan sangat pedas, atas agresi militer Israel ke Gaza. Sesudah itu, Erdogan meninggalkan pertemuan dan kembali ke negaranya. Dengan sikapnya itu Erdogan menjadi pahlawan di dunia Arab.

Turki di bawah AKP dan Erdogan menjadi tempat berlabuh para aktivis Islam, dan seluruh kekuatan-kekuatan Islam, yang ingin membangun komunikasi politik dan kerjasama antar Gerakan, dan mereka bisa bertemu di Istambul Turki. Turki menjadi tempat semua Gerakan Islam yang ingin bertemu untuk menyamakan visi gerakan mereka. Ini yang tidak ada di negara Islam, khususnya di dunia Arab, dan tempat lainnya. Di mana pemerintahan Turki di bawah AKP, memfasilitasi berbagai kelompok dan kekuatan Islam di seluruh dunia, yang ingin melakukan pertemuan dan menggalang kerjasama di Istambul Turki.

Kelompok-kelompok Islam di Turki terus tumbuh, dan bersemi dengan baik, dan mereka mengaktualisasi pemikiran dan gerakan mereka, dan semuanya tanpa ada restriksi (hambatan). Pemerintah Turki di bawah AKP, memperjuangkan perubahan konstitusi, yang merupakan produk militer, dan hasil kudeta tahun l982, dan inilah yang ingin di rubah oleh Erdogan dan AKP. Termasuk dibebaskan semua pelajar, mahasiswa, dan pegawai untuk menggunakan jilbab.

Faktor-faktor itulah yang menyebabkan mengapa Erdogan dan AKP mendapatkan dukungan yang konstan dari rakyat Turki. Sebaliknya, selama enam dekade, sejak pemerintahan sekuler di bawah Kemal Attaturk, tidak dapat mencapai kemakmuran yang riil bagi rakyatnya, dan terus dalam pusaran konflik.

Tentu, membandingkan tokoh-tokoh Partai AKP Turki dengan tokoh-tokoh Partai Islam di Indonesia, tak sepadan. Seperti membandingkan antara siang dengan malam.

Partai-partai Islam atau berbasis pemilih Islam di Indonesia, umumnya mereka adalah tokoh-tokohnya yang tidak memiliki visi, integritas, kredibelitas, dan komitmen. Selama hampir satu dekade setelah mereka "nempel" pada kekuasaan pemerintah SBY, dan dengan menggunakan dasar legitimasi "koalisi", tak menghasilkan apa-apa alias "nothing" untuk rakyat dan negara. Tidak ada perubahan yang bisa diukur dan dipertanggungjawabkan secara politik dan moral. Justru kehidupan rakyat dan bangsa ini, semakin mengalami dekaden disemua sektor. Kemungkaran bertambah luas, dan menurunnya tingkat kelayakan hidup rakyat.

Ibaratnya, para pemimin tokoh partai Islam itu, dulunya seperti "pedagang oncom keliling", yang tiba-tiba menjadi "juragan" partai, pertama yang menjadi tujuannya, tak lain, mengeyangkan perutnya dahulu. Bukan perut rakyat. Tak heran mereka yang dahulunya miskin sebelum menjadi pemimpin partai, sekarang sesudah menjadi pemimpin partai, hidupnya semua menjadi "wah". Tak terbayangkan lagi.

Tak heran lagi, mereka yang menjadi pemimpin partai sekarang ini, hanya mengejar "rente' dari kekuasaan dengan cara menjadi "makelar". Menjadi "makelar" di departemen-dapertemen atau menjadi "calo" anggaran di DPR. Mungkin juga mereka menjadi "makelar" para pengusaha yang membutuhkan proyek dari departemen, yang menjadi mitra kerjanya. Mungkin juga menjadikan "kursi" gubernur, bupati, walikota, dan jabatan di BUMN, sebagai sarana mendapatkan uang.

Maka, sama-sama satu dekade terlibat dalam mengelola kekuasaan AKP di Turki dengan Partai Islam di Indoneia, yang "nempel" kekuasaan sangat berbeda. Di Turki perubahan nyata dirasakan oleh rakyat dan negara. Sementara di Indonesia yang berubah baru nasib dan hidupnya para pemimpin alias "juragan" Partai Islam, yang lebih makmur dibandingkan sebelumnya.

Di Turki kalangan "Islamlis" ikut dalam demokrasi menghasilkan perubahan yang mendasar bagi kehidupan rakyat dan bangsanya, sementara itu di Indonesia Partai-Partai Islam ikut dalam demokrasi, yang terjadi justru menjadikan Indonesia sebagai rezim "kleptokrat" (maling), yang sangat menggetirkan. Wallahu'alam.

sumber : http://www.eramuslim.com/editorial/membandingkan-partai-akp-turki-dengan-partai-islam-di-indonesia.htm


Wednesday, June 15, 2011

Sejarah Panjang dan Kapasitas Besar Telah Memenangkan AKP

0diggsdigg
email

d

akwatuna.com - Kemenangan AK Parti (AKP) di Turki sudah bisa ditebak jauh hari sebelum pemilu 12 Juni 2011 kemarin. Ini hanyalah ledakan dari akumulasi perjuangan panjang mereka. Usia perjuangan AKP sebenarnya tidak beda dengan usia Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Pengalaman jatuh bangun di luar dan di dalam pemerintahan membuat mereka matang.

Sejarah adalah aset politik yang tak ternilai dan aset itulah yang dimiliki AKP. Sejarah menandai kejujuran dan konsistensi sebuah organisasi. Kejujuran dan konsistensi adalah karakter yang tidak bisa diklaim, tapi harus dibuktikan dalam perilaku. Pembuktian itulah yang memerlukan waktu panjang!

Dalam rentang waktu yang teramat panjang, gerakan yang melahirkan AKP telah membuktikan kejujuran dan konsistensi mereka. Sekarang mereka memetik buahnya. Sejarah yang tercatat dan terwariskan selalu begitu. Merupakan ledakan dari akumulasi kebajikan yang panjang. AKP adalah ledakan itu.

Jatuh bangun itu biasa dalam politik, tapi tetap ada yang terlihat secara konstan dalam proses itu. Kejujuran dan konsistensi, itulah yang ditunjukkan oleh AKP. Dan pengalaman panjang itu bukan hanya mematangkan kepribadian AKP, tapi juga melatih dan menumbuhkan kompetensi mereka.

Dalam sistem demokrasi semua ideologi punyak hak hidup, tapi itu tidak menentukan pilihan rakyat, yang menentukan itu kinerja. Dan AKP berkinerja bagus. Kinerja, seperti karakter, tidak datang dari klaim, tapi dari pembuktian, dan itu juga perlu waktu. Dalam 2 periode kepemimpinannya, AKP telah menunjukkan kinerjanya! Kinerja bersumber dari kapasitas yang besar, itulah yang memungkinkan rencana tereksekusi. Dan kapasitas leadership AKP memang luar biasa. Kini Islam atau sekuler bagi rakyat Turki bukan lagi pertanyaan. Tapi apa yang diberikan partai kepada rakyat atas nama ideologi itulah yang penting.

Orhan Pamuk, seorang peraih Nobel Sastra asal Turki, menulis novel tentang Istanbul dan menggambarkannya sebagai kota yang muram. AKP mengubahnya jadi hidup. Sebelum tahun 2003 kita bahkan masih bisa merasakan kemuraman itu di Istanbul. Di bawah AKP sekarang kota itu hidup dengan jutaan turis setiap tahun. Dari 6 juta turis menjadi 26 juta turis setiap tahun rasanya memadai menggambarkan bagaimana ekonomi Turki bergeliat dibawah AKP.

Sekarang PDB di atas 1$ Triliun. Ekonomi Turki berada di urutan ke-7 di Eropa. Dengan kinerja ekonomi itu AKP mengintegrasikan demokrasi dengan kesejahteraan. Jadi, demokrasi bukan penjelasan bagi kesejahteraan. Sejahtera atau tidak sejahtera kita tetap harus bebas sebagai manusia merdeka. Bebas itu asas demokrasi.

Kesejahteraan lebih banyak dijelaskan oleh kapasitas kolektif kita sebagai sebuah bangsa. Keduanya berbanding lurus, dan itu yang telah dipahami oleh AKP sejak awal. Bahwa kebebasan bisa jadi basis dari kreativitas kolektif menuju sejahtera itu benar adanya. Tapi juga bisa jadi faktor destruktif kalau kapasitas kita rendah. Kebangkitan ekonomi Cina, Korea, dan Jepang lebih banyak dijelaskan oleh akselerasi pembangunan sumberdaya manusia mereka daripada sistem politiknya.

Struktur ekonomi Turki terutama disangga oleh teknologi dan industri, itu tentu merujuk pada kapasitas SDM negara itu. Jadi demokrasi adalah hak asasi tapi kesejahteraan adalah efek kapasitas. Maka AKP mengubah supremasi militer jadi supremasi sipil, setelah itu baru membangun ekonomi!

Dalam konteks itu demokrasi tidak perlu diperdebatkan sebagai ideologi, tapi lebih sebagai hak asasi manusia yang harus direbut. Intinya kebebasan itu. AKP menjadikan supremasi sipil sebagai simbol capaian demokrasinya yang paling kuat, dan keluar dari perdebatan tentang negara agama dan negara sekuler.

AKP bahkan menyatakan dirinya sekuler karena tujuannya memang mendirikan civilized nation state. And so what?? It is the society, not the system!! Kualitas kita sebagai masyarakatlah yang menentukan maju tidaknya negara, bukan sistemnya.

Jadi demokrasi adalah ruang kosong yang bisa diisi dengan semua konten. Tapi kapasitas kita sebagai bangsa tidak berhubungan dengan itu semua. Dalam ruang kosong demokrasi itulah rakyat Turki memilih AKP karena kapasitas dan kinerjanya!! Dan itu yang gagal diwujudkan kaum sekuler disana!! Kompetisi politik dalam demokrasi adalah kompetisi kapasitas. AKP memahami aturan main itu dengan sangat baik.

Gabungan sejarah panjang dan kapasitas besar itulah yang memenangkan AKP.

Mereka punya strong leader seperti PM Erdogan dan strategic thinker seperti Menlu Oglo. Sistem adalah pedang, tapi manusia (kapasitasnya) yang menentukan apakah ia dipakai menebas musuh atau cuma memotong bawang.

Leadership pemimpin AKP, Erdogan, adalah sebuah catatan lain. Ia seorang pekerja keras, risk taker, dan selalu mampu mengeksekusi rencana besarnya. Erdogan dibantu seorang pemikir strategis yang sekarang jadi Menlu Turki saat ini, Ahmad Daud Oglo. Kombinasi 2 orang ini membuat AKP menjadi dahsyat. Selain itu AKP juga didukung oleh lebih dari 5000 pengusaha dengan komitmen kontribusi yang kuat.

Jadi AKP memiliki semua syarat untuk menang. Narasi yang jelas, leadership yang kuat, dan sumberdaya yang besar. Dan yang lebih penting dari kemenangan AKP adalah bahwa rakyat Turkilah yang paling diuntungkan dari kemenangan itu!! Dalam pidato kemenangannya, Erdogan menyatakan bahwa kemenangan AKP adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Turki, Timur Tengah, dan kemanusiaan.

Walaupun sulit Erdogan berjanji membuat konstitusi baru bagi Turki yang menjamin setiap warga negara menjadi warga negara kelas satu. Konstitusi baru yang dijanjikan Erdogan bagi Turki akan lebih civilized dan menjunjung tinggi kebebasan, beliau juga berjanji merangkul oposisi. (@Anismatta/#AKP/hdn)



Monday, June 13, 2011

Rakyat Turki berpesta dengan kemenangan AKP


Zulkifli Sulong, Istanbul

ISTANBUL, 12 Jun: Parti Keadilan dan Kesejahteraan (AKP) Turki pimpinan Toyyib Erdorgan berjaya memenangi pilihan raya Turki buat kali ketiga berturut-turut dan sekalligus memecahkan rekod yang dipegang parti pimpinan Adnan Manderes sebelum ini.

AKP menang dengan undi popular sebanyak 49.9 peratus berbanding 37 peratus dalam pilihan raya 2002 dan 47 peratus dalam pilihan raya 2007.

Bagaimanapun AKP gagal mencapai sasarannya untuk memenangi dua pertiga kerusi apabila hanya memenangi 325 kerusi iaitu kurang dua belas kerusi lagi dari jumlah sasaran dua pertiganya.

Rakyat Turki, khasnya penyokong AKP dari pelbagai lapisan umur bagaikan berpesta di perkarangan pejabatnya di Istanbul dan juga di Ankara.

Di Ankara, Presiden AKP, Erdogan dan isterinya berucap kepada para penyokongnya bagi meraikan kemenangan itu kira-kira jam 9.30 malam waktu tempatan.

Di Istanbul, pesta kemenangan berlangsung di perkarangan pejabat AKP dan juga di dalam dewan besar pejabat AKP Istanbul.

Para remajanya menari tarian tradisional Turki sambil menyanyikan lagu khas yang dicipta AKP untuk pilihan raya kali ini.

Mereka mengibarkan bendera AKP yang dibekalkan oleh parti itu sejak jam tujuh malam apabila keputusan awal diumumkan AKP sudah memperolehi 53.24 peratus.

Sambil menyanyi dan menari, mereka juga bersorak setiap kali gambar pemimpin kesayangan, Erdogan dipaparkan dilayar besar yang dipasang di perkarangan parti itu.

(Gambar bawah: Huseyin Kansu [kanan] bercakap dengan Dr Mariah Mahmud menjelang keputusan pilihan raya diumumkan)

Menurut Huseyin Kansu, bekas anggota Parlimen AKP, partinya masuk ke dalam pilihan raya ini dengan sasaran untuk membolehkan partinya membuat satu perlembagaan baru yang disediakan oleh pihak awam.

Ini kerana, perlembagaan Turki yang ada sekarang disediakan oleh pihak tentera. Walaupun sudah berpuluh kandungannya dipinda oleh kerajaan AKP namun ia tidak menyelesaikan masalah gangguan tentera dan mahkamah perlembagaan yang sentiasa menganggu kerajaan pilihan rakyat itu.

Antara pindaan yang pernah dibuat adalah membenarkan para pelajar wanita universiti di negeri itu memakai tudung disamping membenarkan wanita memakai tudung di majlis rasmi kerajaan.

Ketika mula menang di Turki pada tahun 2002 dahulu, isteri Erdogan sendiri, Emin, tidak boleh mengiringi suaminya ke majlis rasmi kerana beliau enggan memakai tudung yang dipakainya itu.

Kini, Emin boleh menemani suaminya ke mana-mana termasuk ke majlis rasmi kerajaan.

Namun pindaan-pindaan yang dibuat tidak boleh menghentikan pihak tentera mengganggu gugat kerajaan pada setiap masa.

"Hanya dengan membuat semula perlembagaan yang berasaskan demokrasi sepenuhnya barulah ia akan selesai," kata Huseyin Kansu kepada Harakahdaily.

Huseyin adalah anggota Parlimen tiga zaman iaitu dibawah parti Refah, Fadhilat dan yang terakhir AKP iaitu pada tahun 2002.
Selepas tiga penggal sebagai anggota Parlimen, Huseyin tidak lagi bertanding sejak 2007 dan pilihan raya tahun ini namun beliau kekal sebagai penyokong tegar AKP.

Bagi beliau, setiap kali tentera menganggu urusan kerajaan, ekonomi Turki juga akan turut terganggu.

"Oleh itu majoriti lebih dua pertiga diperlukan untuk membolehkann perlembagaan baru dibuat dan menjadikan Turki benar-benar negara demokratik," kata Huseyin.

Dalam pilihan raya ini, AKP mendapat 325 kerusi, CHP 135, MHP 54 dan BGM 36 kerusi.

Turut menjadi pemerhati pilihan raya ini adalah lima pemimpin dan petugas PAS dan tiga pemimpin PKR. Delegasi PAS yang diketuai Dr Mariah Mahmud turut disertai oleh Nasir (Kedah), Onn Jaafar (Johor), Taufek Ghani (Negeri Sembilan), Abdul Rahman dan Baihaki Atiqullah (Kelantan) di samping penuls (Harakah).

Pemimpin PKR adalah Nurul Izzah Anwar (naib presiden), Saifudin Nasution (setiausaha agung) dan Datuk Johari Abdul (ahli MPT)



http://hidayatullah.com/read/17485/13/06/2011/akp-kembali-menang,-berambisi-jadi-corong-islam.html

http://greenboc.blogspot.com/2011/06/pilihanraya-turki-parti-akp-pimpinan.html

http://bm.harakahdaily.net/index.php/berita-utama/3754-rakyat-turki-berpesta-dengan-kemenangan-akp


Sunday, June 12, 2011

AK sedia membina rekod baru untuk Turki

10 Rejab 1432H. [MOD] -
Zulkifli Sulong

ISTANBUL, 12 Jun: Hari ini, 50 juta rakyat Turki yang layak mengundi akan membuang undi mereka dengan Parti Keadilan dan Kesejahteraan (AKP) yang memerintah bersedia untuk menang kali ketiga berturut-turut.

Ini bermakna mereka bersedia untuk mencatatkan sejarah bersama dengan parti pimpinan Sulaiman Menderes yang pernah mencatat rekod yang sama dalam sejarah demokrasi Turki.

Sulaiman adalah satu-satunya pemimpin yang memimpin parti politik yang pernah memenangi pilihan raya Turki tiga kali berturut-turut dan kini AKP sedia untuk menyamai rekodnya itu.

(Kiri: Penulis bergambar di depan bangunan gudang yang menempatkan pusat operasi AKP Istanbul untuk pilihan raya umum ini.)

Namun AKP mahu memecahkan rekod itu dengan mencatatkan pencapaian yang lebih baik iaitu dengan peningkatan undi walaupun selepas tiga kali menang berbanding dengan parti pimpinan Sulaiman yang turun pencapaiannya dalam pilihan raya ketiga.

Orang ramai yang ditemui yakin, AK akan membuat pencapaian yang lebih baik kali ini berbanding 47 peratus undi popular dalam pilihanraya 2007 lalu. Pandangan ini bukan sahaja dikongsi oleh penyokong AKP bahkan juga dari parti lawannya iaitu Saadet pimpinan Rejjab Kuttan.

"Saya fikir mereka akan dapat sekitar 48 - 52 peratus kali ini berdasarkan sokongan ramai yang mereka terima," kata Hassan, seorang peniaga makanan manisan Turki di Grand Bazaar yang merupakan penyokong kuat Saadet.

Bagaimanapun beliau berharap kali ini Saadet akan turut bersama dalam kerajaan Turki untuk membantu melaksanakan dasar-dasar negara bagi kepentingan Islam di Turki.

Saadet umpama PAS manakala AKp umpama PKR di Malaysia. Pemimpin AKP, Raccip Toyyib Erdogan adalah Ketua Pemuda parti Refah pimpinan Almarhum Necmetin Erbakan, ketika Erbakan pernah menjadi pemimpin Turki satu masa dulu.

Parti yang dipimpin Erbakan sentiasa sahaja berdepan dengan pemansuhan oleh mahkamah perlembahaan Turki atau pihak tentera apabila mereka dilihat mahu melaksanakan Islam.

Selepas Refah diharamkan, Erdogan memilih jalan sendiri dan membentuk AK pada tahun 2001 sebelum menyertai pilihan raya Turki 16 bulan selepas itu dan menang 34 peratus undi popular pada tahun 2002.

Pada ketika itu, Erdorgan tidak dapat menyertai pilihan raya itu ekoran sekatan undang-undang selepas dipenjarakan enam bulan kerana membaca satu syair yang dikira bercita-cita mahu melaksanakan syariah di Turki.

Abdullah Gul telah dipilih menjadi Perdana Menteri AKP yang pertama. Selepas sekatan undang-undang selesai, Erdorgan menyertai satu pilihan raya kecil melalui perletakan jawatan salah seorang anggota parlimennya dan menang.

Erdorgan dilantik menjadi Perdana Menteri dan Abdullah Gul tidak beberapa lama selepas itu dipilih menjadi Presiden Turki sehingga kini.

Mulai 2002, AKP membentuk kerajaan sehingga kini, Dalam pilihan raya umum 2007, undi mereka meningkat keppada 47 peratus dan membentuk kerajaan tanpa perlu bekerjasama dengan lain-lain parti.

Berdasarkan pengalaman Refah dan Erbakan, AKP mengambil pendekatan lebih terbuka dan inklusif dimana partinya tidak menampakkan untuk Islam semata-mata bahkan untuk semua pihak.

Hasilnya AKP umpama PKR di Malaysia. Ahlinya terbuka kepada semua pihak yang bercita-cita untuk mengubah Turki kepada negara yang lebih baik.

Semalam, kami menyertai satu majlis kempen AKP di Istanbul. Majlis bermula dengan berjalan (Walk about) melalui kawasan-kawasan perumahan dengan didahului oleh van yang balut khasnya dengan banner kempen disamping menyiarkan lagu AK.

Perarakan yang bermula dengan petugas sukarelawan dan pemimpin AKP berkembang dari satu lorong ke satu lorong apabila ia turut disertai oleh penduduk tempatan.

Pendekatan inklusif AKP bukan sahaja menarik perhatian rakyatnya bahkan para pemimpin politik negara Balkan dan persekitarannya. Mereka turut sama menyertai perarakan ini dan bangga dikaitkan dengan Erdogan.

(Gambar: Peristiwa Perdana Menteri Erdogan menyalahkan Perdana Menteri Israel, Simon Peres dalam Forum Ekonomi Dunia menjadi gambar utama kempen AKP dalam pilihan raya ini dan diletakkan di mana-mana termasuk di ibu pejabat operasinya.)

"Di Malaysia, ada yang kaitkan saya dengan kumpulan Erdorgan dalam PAS...nampaknya, saya juga berbangga dengan jolokan itu dengan apa yang dibuat Erdogan untuk rakyat Turki," kata Dr Siti Mariah Mahmud, anggota Parlimen PAS dari Kota Raja yang mengetuai rombongan PAS memerhati perjalanan pilihan raya ini.

Seorang ahli politik dari Kosovo yang turut serta dalam perarakan itu berkata, beliau berbangga dengan apa yang dibuat oleh AKP untuk Turki.

"Saya yakin AKP akan membuat percapaian yang lebih baik kali ini berdasarkan apa yang beliau buat untuk rakyat Turki," kata beliau ketika bersama-sama menyertai perarakan itu.

Sebagaimana budaya kaum Cina dan India di Malaysia, program di Istanbul bermula jam 5 petang lagi. Ketika Azan Maghrib bergema dari corong masjid berdekatan, mereka menghentikan sekejap muzik yang bergema yang dibuat di sebuah pentas yang terletak di sebuah taman rekreasi itu. (Umpama panggung Aniversari di Lake Garden, Kuala Lumpur).

Selepas azan berhenti, muzik disambung kembali dan 15 minit selepas itu majlis bermula dengan persembahan tarian tradisi Turki.

Selepas itu, majlis ucapan bermula dari pemimpin tempatan dan calon-calon yang bertanding. Turut dijemput naik ke pentas dan memberikan ucapan adalah Setiausaha Agung PKR, Saifudin Nasution Ismail.

Ketika itu, orang ramai sudah memenuhi tempat duduk mini stadium itu. Selepas majlis selesai, penonton dihiburkan dengan nyanyian dari penyanyi popular Turki yang mendapat tepukan gemuruh dari orang ramai.

"Cara AK memang mendapat sokongan ramai dan saya yakin mereka akan menang besar lagi kali ini," kata Hassan penyokong Saadet itu.

Selain pendekatannya yang mendapat sokongan ramai, AK mempunyai tiga tunggak besar yang menjadi pillar kepada sokongan ke atasnya, kata Dr Umar Faruk, seorang pemimpin muda AK yang menjadi penyelaras kepada tetamu dari luar Turki.

"Pertama kami mempunyai pemimpin yang berkarismatik iaitu Erdorgan," kata Umar.

Kepimpinan Erdorgan terserlah ketika beliau menjadi Datuk Bandar (Mayor) Istanbul. Ketika Istanbul mempunyai pelbagai masalah kronik. Dari jalan raya yang sentiasa sesak tanpa peraturan dan susunan yang baik hinggalah kepada masalah air yang meruncing.

Erdorgan berjaya menyelesaikan kedua-dua masalah ini dengan baik dan kini Istanbul menjadi pusat kewangan utama yang menarik pelbagai pihak.

"Yang kedua organisasi AK yang mantap menjadikannyaa sebuah parti yang menarik untuk semua pihak. Di Istanbul misalnya mempunyai 39 daerah dan 1000 bandar kecil. Di semua bandar ini kami ada cawangan dan sasaran kami, sembilan orang di setiap pusat pengundian yang berjumlah 31,000 itu," cerita Omar.

Faktor ketiga adalah pencapaian kerajaan Turki selama 10 tahun di bawah AK.

"Aktiviti dan polisi yang dibuat kerajaan Turki sepanjang tempoh itu menjadi bahan kempen kami kini," kata Omar yang sangat bangga dengan pencapaian partinya.

Untuk itu, sepanjang kempen ini, AK menyediakan satu banner khasnya untuk menceritakan kejayaan kerajaannya atau succes story yang memapar perbezaan antara kerajaan Turki di bawah AK dan sebelum ini.

Di pejabat AK Istanbul, ia dijadikan satu banner besar yang dipaparkan dipintu masuk ke pajabatnya. Semua tetamu dan petugas akan melihat banner itu.

Yang menarik dari segala-galanya adalah konsep atau pendekatan kerja pilihan raya AK bermula sehari selepas pengundian tamat,

"Kerja pilihan raya kami akan datang bermula Isnin ini selepas pengundian tamat petang esok (Ahad)," kata Omar.

Kerja utama mereka sepanjang masa adalah mendaftar seramai mungkin ahli. Untuk mengelakkan sebarang halangan untuk menjadi ahli, tidak ada sebarang yuran dikenakan kepada mana-mana pihak untuk menjadi ahli parti itu.

Kerja mendaftar keahlian ini antara aktiviti utama hatta sepanjang kempen pilihan raya umum yang sedang berjalan sekarang. Tujuannya adalah untuk memastikan ramai yang merasa AK adalah parti mereka.

Hasilnya, AK mempunyai 5 juta ahli di seluruh negara. Dengan 50 juta pengundi Turki bermakna, 10 peratus dari mereka adalah ahli AK.

Parti pembangkang terbesar sekarang adalah CHP (Parti Demokratik Rakyat) yang hanya mempunyai 750,000 ahli.

Dengan latar belakang inilah parti AK pimpinan Erdorgan menyertai pilihan raya kali ini dan mereka sangat yakin akan kekal sebagai pemerintah di samping berusaha memecahkan rekod Sulaiman Damires.