Tuesday, March 29, 2011

POLITIK KEPARTIAN DAN MAZHAB FIQH


Dalam politik kepartian kita akan dapati bahawa ia seakan –akan mazhab dalam fiqh. Akan tetapi politik kepartian lebih kecil dari mazhab fiqh itu sendiri. Ini kerana mazhab fiqh dipimpin oleh Imam-imam mujtahid yang tidak tertanding ilmunya bahkan ia melewati sempadan negara. Ia berbeza dengan politik kepartian yang terkadang calon yang mempunyai sedikit sahaja kelebihan pun dilantik menjadi pemimpin.

Secara logiknya kita akan dapati bahawa ramai dikalangan orang yang ta’sub mazhab, lantas mengatakan mazhab dia sahaja yang paling betul, ini kerana hasil daripada buta ilmu tetapi celik lambang atau aliran. Begitu juga sekiranya banyak parti secara langsung akan membawa sedikit sebanyak kepada perpecahan kerana ramai pengikut yang buta ilmu dan celik hanya kepada lambang parti-parti tertentu.

Berhubung dengan demikian jika kita melihat kepada sejarah Imam Hassan Al-Banna, beliau tidak melibatkan diri untuk parti-parti tertentu, menyaingi parti-parti tertentu. Sehinggakan pada satu ketika beliau dicalonkan dalam pilihan raya, lalu beliau menolak pencalonan tersebut kerana beliau berpendapat ia boleh memudaratkan negara Mesir pada ketika itu walaupun ditentang oleh ahli-ahli ikhwanul muslimin sendiri.

Beliau melakukan perkara tersebut adalah kerana beliau merupakan seorang tokoh yang besar bagi umat Islam dan Arab. Begitu juga kerana beliau merupakan seorang tokoh yang ingin menghimpunkan dan bukan pemecah –belah. Membina dan bukan meruntuh. Memberi harapan dan bukan berputus asa.

Dalam mazhab fiqh kita diberi kebebasan untuk memilih asalkan ianya lebih dekat kepada kebenaran, dan hujjah yang disandarkan lebih kuat antara mazhab. Begitu juga parti kita perlu mewujudkan suasana masyarakat yang matang yang tidak buta kepada lambang dan parti-parti tertentu. Apa yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah untuk menegakkan Islam. Ini kerana parti hanya sebagai cara yang digunakan pada zaman ini dan mungkin berubah apabila berlalunya zaman.

Apa yang menjadi malang kita pada hari ini apabila kita melihat kepada negara-negara Islam penuh dengan berbagai parti, terkadang terjadi seperti di Indonesia partai Islam sahaja lebih dari sepuluh. Memang dari satu sudut ia baik dan kebebasan, tetapi satu perkara yang kita perlu ingat bahwa islam mengatsi parti politik. Dan titik inilah yang perlu dicari untuk menyatukan umat islam.

Oleh : Ahmad Syahin

28/3/2011





Monday, March 21, 2011

Saturday, March 19, 2011

Apa dosa Ulil terhadap Islam dan kaum Muslimin sehingga harus dibunuh?



Ulil Abshar Abdalla, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) dikirimi paket buku berisi bom, Selasa (15/3/2011) di KBR 68 H, Utan Kayu, Jakarta Timur. Buku berisi bom tersebut berjudul "Mereka Harus Dibunuh! Karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin". Apa dosa Ulil terhadap Islam dan kaum Muslimin sehingga harus dibunuh?

Dosa Ulil terhadap Islam dan kaum Muslimin

Tidak aneh jika Ulil, tokoh JIL menjadi target pembunuhan. Track record lelaki kelahiran Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967 ini sudah dikenal "anti" syariat Islam. Pada 18 November 2002, Ulil menulis artikel di harian umum Kompas berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" yang menuai fatwa hukum mati dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).

Dalam artikel yang menghebohkan tersebut, Ulil mengobok-obok Islam sesadis-sadisnya yang tentu saja menjadi dosa Ulil terhadap Islam dan kaum Muslimin paling parah dan takkan pernah terlupakan. Dalam artikel tersebut Ulil menistakan syariat Islam, dan menganggapnya hanya sebagai budaya Arab.

"Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab."

Ulil tidak mengimani syariat Islam atau yang disebutnya sebagai hukum Tuhan.

"Menurut saya, tidak ada yang disebut "hukum Tuhan" dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari'ah, atau tujuan umum syariat Islam."

Lebih jauh, Ulil juga menghina insan termulia dalam Islam, nabi Muhammad SAW., dan menganggapnya banyak kekurangan.

"Bagaimana meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).

Ulil bahkan membenarkan semua agama, mencampuradukan dan mengatakan kebenaran Islam ada dalam filsafat Marxisme.

"Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah "nilai generis" yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran "Islam" bisa ada dalam filsafat Marxisme."

Dari artikel Ulil di tahun 2002 yang dimuat Kompas saja, dosa-dosa Ulil kepada Islam dan kaum Muslimin dianggap tidak dapat diampuni. Sayangnya, Ulil tidak berhenti menghina Islam dan kaum Muslimin.

Di tahun 2005, dari Boston dia menulis sebuah surat yang lagi-lagi menistakan Islam dan menbuat heboh. Dalam surat tersebut Ulil mengatakan yang salah saat ini bukan hanya umat Islam, tetapi Islam itu sendiri.

"Menurut saya, memang ada yang salah saat ini, bukan pada umat Islam, tetapi pada Islam itu sendiri. Kalau hal ini tidak diakui, maka "kultur kematian" (saya tak mau menyebutnya sebagai "martyrdom") seperti yang meledak di Bali itu akan terus-menerus mewarnai Islam,
di masa-masa mendatang. Hanya saat umat Islam menyadari kesalahan itu, dan mengakuinya sebagai sejenis penyakit, maka mereka akan segera bergegas ke
dokter, dan mencari pengobatan. "Politic of denial", menolak terus-menerus, sambil mengatakan bahwa "Ini bukan Islam, ini oknum," hanya memperpanjang umur penyakit itu, akan membuatnya kian kronis, dan menggerogoti Islam sendiri. Kultur itu hanyalah
parasit yang harus segera dipotong."

Dosa Ulil dan JIL Menuai Adzab & Bencana

Dosa-dosa Ulil secara khusus dan JIL secara umum terhadap Islam dan Kaum Muslimin tersebut bisa jadi merupakan penyebab dirinya dikirimi paket buku berisi bom. Hal ini terlihat dari judul buku "Mereka Harus Dibunuh! Karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin" yang dikirim seseorang bernama Drs. Sulaiman Azhar, Lc dan mengaku berasal dari Ciomas, Bogor.

Dalam surat tersebut, pengirim menjelaskan bahwa tema bukunya adalah "Deretan nama dan dosa-dosa tokoh Indonesia yang pantas dibunuh". Dalam buku berjumlah halaman 412 tersebut, nama Ulil tentu saja dipastikan ada walaupun entah di urutan keberapa dan apakah buku tersebut betul-betul telah ditulis dan diterbitkan.

Nama Ulil dalam buku berjudul "50 Tokoh Islam Liberal Indonesia" yang ditulis oleh Budi Handrianto dan diterbitkan oleh Hujjah Press, menempati urutan ke 48 dan termasuk ke dalam kategori "Para Penerus Perjuangan" JIL Indonesia. Di urutan ke 49, terdapat nama Zuhairi Misrawi, yang uniknya juga nyaris dibunuh karena kiprahnya di JIL. Juga Masdar F Mas'udi (urutan ke 19 dan masuk kategori senior JIL).

Berikut kronologis peristiwanya sebagaimana terdapat dalam buku "Kekafiran Berfikir Sekte Paramadina, Wihdah Press, 2004, hlm 146).

Medio Februari 2004 publik muslim Mesir dan Indonesia geger dengan peristiwa ancaman bunuh terhadap Masdar F Mas'udi dan Zuhairi Misrawi oleh Limra Zainuddin, Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.

Masdar F Mas'udi, Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jum'at sore di bulan Februari 2004 berada di Hotel Sonesta, Kairo. Ia berada di sana karena memiliki gawe bertajuk "Pendidikan dan Bahtsul Masail Islam Emansipatoris". Acara ini akan dilangsungkan di hotel bintang lima tersebut, Sabtu hingga Senin. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama P3M, Kekatiban Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), dan organisasi mahasiswa setempat, "Sanggar Strategi TEROBOSAN". Pesertanya sekitar 75 mahasiswa Indonesia di Mesir yang mewakili sejumlah simpul. Pemikir Mesir, Prof.Dr.Hassan Hanafi dan Dr.Youhanna Qaltah, dijadwalkan menjadi pembicara.

Sore itu, Limra mendatangi hotel untuk menolak acara tersebut. Setelah menemui manajer hotel, ia bertemu panitia dari unsur mahasiswa Indonesia di Kairo. Limra menyebutkan alasan menolak acara, karena lontaran pemikiran Zuhairi dianggap meresahkan masyarakat.

"Peryataan Zuhairi tentang shalat tidak wajib. Dan permasalahan muslim menikahi wanita musyrik," kata Limra. "Juga pendapat Masdar tentang haji," Limra menambahkan. Baru beberapa menit Limra berada di lobi hotel, kemudian muncul Masdar bersama beberapa mahasiswa.

Limra menyampaikan tembusan surat keberatan PPMI kepada Masdar. Surat tertanggal 5 Februari 2004 itu meminta Duta Besar RI untuk Mesir meniadakan acara yang akan digelar Zuhairi Misrawi selaku koordinator Program Islam Emansipatoris P3M. Penolakan itu, katanya, berdasar aspirasi mahasiswa Indonesia di Mesir. Ujung surat PPMI itu menyiratkan ancaman. "Bapak sudah bisa membaca apa yang terjadi, bila acara Zuhairi tetap dilaksanakan." Menanggapi persoalan itu, Masdar berusaha mendinginkan suasana dengan menawarkan dialog. Limra menolak, dengan alasan hanya buang-buang waktu. Ia menilai pandangan Masdar tentang pelanggaran waktu haji telah mengungkit akidah. "Itu sekedar pemikiran. Anda tidak harus mengikutinya," kata Masdar, berargumentasi. "Pokoknya tidak bisa," ujar Limra dengan nada tinggi. "Saya sudah capek mengurus persoalan seperti ini, sampai program saya terbengkalai. Sejak lebaran, saya sudah marah. Sampai sekarang saya masih marah."

Masdar lalu menantang, "Seandainya acara ini tetap dilaksanakan, apa akibatnya ?" Limra menanggapinya dengan melontarkan ancaman akan membunuh Masdar. Dengan tenang, Masdar meledek Limra, "Bisa enggak saya dibikinkan surat ancaman bahwa saya akan dibunuh?" Dan Limra pun berkelit, "Saya hanya bisa lewat lisan, saya banyak pekerjaan."

Masdar kembali melontarkan pertanyaan, "Jadi, sama sekali enggak ada jalan keluar?" Limra naik pitam. Napasnya terengah-engah. Tangan kanannya mengambil asbak di meja, lalu diacungkan ke muka Masdar. "Apa perlu Bapak saya bunuh sekarang?" Limra membentak.

Dalam teks yang lain (ancaman itu dikutip dalam catatan kronologi bikinan tim panitia yang beredar di milis para mahasiswa Universitas al-Azhar, Mesir), Limra antara lain menyatakan : "Saya akan membunuh Bapak atau Zuhairi. Kalau bukan Bapak yang mati, atau Zuhairi, maka saya yang mati. Pilihannya mayat saya, mayat Bapak atau Zuhairi. Kalau Bapak masih bersikeras, saya sendiri yang akan membunuh Bapak."

Kejadian serupa, dengan tokoh liberal asal Mesir juga pernah terjadi, menimpa Dr. Faraj Faudah (1945-1993). Dr.Faraj Faudah terbunuh setelah peristiwa "debat besar" antara kelompok sekuler di Mesir dengan kelompok Islam, tahun 1992. Dr. Faraj Faudah terbunuh enam bulan setelah acara debat, yaitu pada April 1993, di Mesir.

Syekh Muhammad Al-Ghazali yang menjadi 'teman debat' Faudah didatangkan oleh pengadilan sebagai saksi ahli atas terbunuhnya tokoh sekuler itu. Kesaksian Al-Ghazali ini kemudian ramai di media massa Mesir, ada yang pro dan kontra. Hal ini karena teryata di pengadilan Al-Ghazali menyatakan tegas bahwa orang yang mengaku muslim tapi menolak terang-terangan pelaksanaan syari'at Islam dan mengajak untuk mengganti syari'at Allah dengan syari'at thaghut, maka orang itu telah keluar dari agama Islam alias murtad.

Syekh Umar Bakri Muhammad dalam sebuah artikel di Majalah Shariah berjudul The Secularist's Attack on Islam and Muslim mengungkapkan bahwa terdapat orang-orang Islam tetapi mempropagandakan ide-ide bukan Islam. Sifat dan perbuatan jahat orang-orang tersebut sudah tidak terhitung lagi banyaknya, bahkan mereka adalah ancaman paling berbahaya bagi keberadaan kaum Muslimin dan kemunculan kembali khilafah, karena mereka adalah "ancaman" yang tidak terlihat (munafik).

Abdurrahman Al Maliki dalam Nidzomul Uqubat fil Islam, memasukkan aktivitas penyebaran ideologi kufur ke dalam sanksi jenis ta'zir, yaitu sanksi yang ditetapkan atas tindakan maksiyat yang di dalamnya tidak ada had dan kifarat .

"setiap orang yang melakukan aktivitas penyebaran ideologi kufur, atau pemikiran kufur, maka akan dikenakan sanksi penjara mulai 2 tahun hingga 10 tahun. Hal ini jika orang tersebut bukan muslim. Jika pelakunya seorang muslim, maka kepadanya ditetapkan hukum murtad, yakni dibunuh. Dan setiap orang yang melakukan penyebaran agama kufur di tengah-tengah kaum muslimin, maka ia akan dikenakan sanksi serupa."

"Setiap tulisan atau seruan yang mengandung celaan terhadap salah satu dari akidah kaum Muslim, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara mulai dari 5 tahun sampai 15 tahun, jika pelakunya bukan muslim atau celaannya tidak sampai mengkafirkan pengucapnya. Namun jika pelakunya seorang muslim dan jika celaan tersebut dapat mengkafirkan pengucapnya, maka ia akan dikenakan sanksi murtad (hukuman mati)."

Wallahu'alam bis showab!

By: M. Fachry
International Jihad Analysis

Jum'at, 13 Robi'ul Akhir 1432 H/18 Maret 2011 M

Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2011 Ar Rahmah Media Network

ISU KITAB INJIL

PKR, Ulama PAS: Tiada masalah benar Injil BM, bukan satu ancaman

March 18, 2011

KUALA LUMPUR, 18 Mac — Dewan Ulama PAS tidak membantah atau menghalang penggunaan kitab Injil dalam Bahasa Malaysia sambil menyifatkan ia tidak menjejaskan kedudukan agama Islam sebagai agama rasmi negara ini.

Ketuanya Datuk Harun Taib berkata, penganut Kristian tidak sewajar dihalang untuk menggunakan Al Kitab memandang Bahasa Malaysia adalah bahasa rasmi negara, milik semua rakyat Malaysia.

“Bagi saya tiada masalah kalau kitab Injil digunakan dalam Bahasa Malaysia ... bukan sahaja dalam Bahasa Malaysia kalau dalam bahasa lain juga tiada masalah.

“Adakah akidah orang Islam akan terjejas dengan kitab Injil dalam Bahasa Malaysia ini? Tidak, ia hanya sekadar kitab yang dibaca penganut Kristian ... itu sahaja. Jadi, kenapa mesti nak halang,” katanya kepada The Malaysian Insider.

Beliau berkata kitab Injil itu hanya diedarkan di kalangan penganut Kristian jadi orang Islam tidak perlu bimbang mengenai perkara itu.

“Tiada masalah, cuma ia tidak boleh disebarkan di kalangan orang Islam ... itu sahaja, kalau nak guna dalam Bahasa Malaysia memang tiada masalah.

“Saya tiada bantahan dalam perkara ini,” katanya.

Ditanya mengenai penggunaan kalimah Allah dalam kitab Injil versi Bahasa Malaysia, Harun yang juga Pesuruhjaya PAS Terengganu berkata, penganut Kristian boleh menggunakan istilah itu dengan syarat hanya di kalangan masyarakat itu.

“Kalau orang Kristian nak guna istilah Allah bagi merujuk Tuhan mereka tiada masalah, kalau mereka yakin Allah adalah Tuhan bagi mereka, biarkan sahaja,” kata beliau lagi.

“Lagipun ia berbeza dengan orang Islam kita ‘Allah s.w.t’ tapi orang Kristian ‘Allah’ sahaja, jadi itu ada beza. Kalau mereka yakin itu hak mereka.

“Saya tak bantah kalau orang Kristian nak gunakan Allah tapi hanya di kalangan mereka sahaja. Jadi orang Islam kena berhati-hati dalam perkara ini,” katanya.

Selasa lalu, kerajaan telah bersetuju untuk mengeluarkan 35,000 naskhah kitab Injil dalam Bahasa Malaysia yang ditahan oleh Kementerian Dalam Negeri di Pelabuhan Kuching dan Pelabuhan Klang ekoran gesaan pelbagai pihak mendesak kerajaan berbuat demikian.

Keputusan itu selaras dengan warta 1982 di bawah Akta Keselamatan Dalam Negeri yang telah membenarkan pengeluaran dan penyebaran kitab Injil dalam Bahasa Malaysia secara terhad dan terkawal, di mana buku-buku tersebut mesti dicop dengan tag “Untuk Penganut Agama Kristian Sahaja”.

Beberapa pihak termasuk PAS berpendapat tidak wajar kitab Injil dalam Bahasa Malaysia seharusnya tidak ditahan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Sementara itu, Ketua Penerangan Parti Keadilan Rakyat (PKR) Dr Muhammad Nur Manuty berkata, penggunaan kitab Injil dalam Bahasa Malaysia tidak akan memesongkan akidah orang Islam.

“Bagi saya tidak jadi masalah, jadi orang Melayu, orang Islam tak perlu bimbang dalam perkara ini.

“Itu adalah hak beragama dan Bahasa Malaysia adalah bahasa rasmi negara, jadi kita tidak perlu nak sekat agama lain termasuk Kristian nak gunakan bahasa ini,” katanya.

Tambah beliau, orang Islam sewajarnya berfikiran terbuka dan jangan bertindak di luar batasan dengan menghalang penganut Kristian menggunakan Bahasa Malaysia dalam kitab Injil.

“Orang tak masuk Kristian hanya kerana bahasa, jadi sebenarnya ia tiada masalah.

“Jadi buat apa nak takut atau bimbang, kitab Injil ini hanya diedarkan kepada yang beragama Kristian sahaja bukan diedarkan kepada orang Islam,” katanya.


http://www.themalaysianinsider.com/bahasa/article/pkr-ulama-pas-tiada-masalah-benar-injil-bm-bukan-satu-ancaman/

Thursday, March 17, 2011

LARANGAN JELAS MENABUR UMPATAN DAN PRASANGKA BURUK






يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. ( Al-Hujuraat : 12 )

Rasulullah S.A.W. menjelaskan mengenai mengumpat seperti sabda bermaksud:

"Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya..."

(Hadis riwayat Muslim)