Sunday, October 23, 2011

Kenapa Titah Raja Melayu Tidak Dikritik



gambar hiasan

Pada masa kekuasaan Islam sudah mula keluar dari Jazirah Arab. Umat Islam mengalami interaksi sosial, politik, dan budaya dengan masyarakat-masyarakat non-Arab. Konsep politik di luar Islam ketika itu menjadikan raja, kaisar, atau kisra sebagai titisan darah dari Tuhan. Inilah diakomodasi oleh penguasa-penguasa Islam ketika itu dan diberi nuansa religious. Ini pula yang dijustifikasikan oleh beberapa pemikir Islam Abad Klasik dan Pertengahan.

Konsep kepatuhan mutlak kepada penguasa dan raja serta menganggapnya sebagai bayang-bayang Tuhan di muka bumi mengakibatkan lemahnya kontrol rakyat terhadap kekuasaan. Di kalangan pemikir politik Sunni terdapat pandangan tidak dibenarkannya melakukan oposisi(pembangkangan) terhadap pemerintah yang berkuasa, apalagi pemberontakan, meskipun pemerintahannya bersifat korup dan despotik. Pandangan ini didasari oleh alasan bahwa menghindari kekacaun yang lebih besar harus diutamakan. Melakukan oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa dapat membawa kepada kekacaun yang lebih besar daripada membiarkannya tetap berkuasa.

Karena lemahnya kontrol terhadap pemerintahan yang berkuasa, dalam pemikiran politik Sunni klasik dan pertengahan tidak terdapat gugatan terhadap bentuk pemerintahan kerajaan(dinasti, monarki). Bahkan ada di antara pemikir yang secara eksplisit menganggap bahwa kerajaan adalah bentuk pemerintahan yang ideal.

Di era kerajaan Islam Nusantara, telah berkembang konsep bahwa penguasa adalah bayang - bayang Allah di muka bumi (zhill Allah fi al-ardh). Beberapa ulama Sunni di kerajaan –kerajaan Melayu juga telah mengembangkan konsep demikian. Dalam sejarah tercatat bahwa Merah Silu (Sultan Malik al-Salih), menurut Hikayat Raja-Raja Pasai, adalah raja yang pertama kali menggunakan gelar Zhill Allah fi al-Alam (Bayang-bayang Allah di alam semesta), sebuah gelaran yang lebih kurang sama dengan yang berlaku pada raja-raja dinasti Bani Abbas.

Gelaran ini juga digunakan oleh Al-Raniry dalam karyanya Bustan al-Salatin untuk menyambut raja-raja Kesultanan Aceh. Hal yang sama juga terjadi di kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Dalam sistem politik di Maratam, sejak Amangkurat IV (memerintah 1719-1727), raja-raja Mataram memperkuat posisi politiknya dengan memberi warna keagamaan melalui gelar “ Khalfatullah” (Khalifah Allah).

Dalam literatur lokal seperti Sulalah al-Salatin disebutkan tentang kepatuhan mutlak kepada raja. Menurut kitab ini, raja adalah umpama ganti Allah di dunia. Karena ia merupakan zhill Allah fi al-ard. Bila seseorang berbuat baik kepada raja, maka ia seperti berbuat baik kepada Nabi, dan bila ia berbuat baik kepada Nabi, maka seperti berbuat baik kepada Allah.

Pegangan seperti ini masih berpengaruh di nusantara hingga hari ini. Konsep ini sebenarnya tidak tepat, raja adalah manusia biasa tidak maksum. Sifat manusia boleh tersalah dan boleh juga betul. Jika pandangan raja menepati apa yang dibawa oleh Allah dan Rasul maka ia boleh diikuti oleh rakyat. Manakala jika raja telah lari dari landasanya membuat sesuatu yang membelakangi syariat Allah, maka tidak ada ketaatan kepada makluk dengan membuat maksiat kepada Allah. Oleh demikian marilah kita mengambil pengajaran bahawa dalam pemerintahan Islam tidak ada sistem teokrasi iaitu ketaatan mutlak kepada raja. Malah menjadi bahaya kepada Akidah sekiranya meletakkan ketaatan mutlak dan menggangap raja tidak boleh dibantah. Saya tertarik apa yang dikomentar oleh Dr Asri tentang Isu ini :

“ Antara perkara yang boleh mengancam akidah orang melayu ialah menganggap titah sultan atau raja itu mesti ditaati secara mutlak..tidak boleh derhaka..tidak mungkin salah..raja dan sultan diberikan kemaksuman sehingga titah mereka bagai al-Quran dan as-Sunnah yang tidak boleh dipertikaikan..ini seakan akidah yang menganggap raja adalah dewa..dalam Islam selain Allah dan rasulNya; boleh dikritik dan dipertikaikan” DrMAZA.com


Oleh : Ahmad Syahin

23/ 10/2011




No comments:

Post a Comment